Prolog

Hari Malas Sedunia! Itulah sebutan yang disematkan anak kost D-7 untuk hari Minggu. Karena di hari minggu hampir (pasti) semua penghuni kost di daerah utara Jogja itu sengaja bangun (sedikit) lebih siang dari biasanya.

Kalau ditanya mereka akan menjawab dengan beragam alasan. Ada yang bilang, “Wajarlah… Kan hari ini nggak ada kuliah!”. Ada yang menjawab, “Kan semalem habis nonton bola”.

Uniknya jawaban paling sederhana yang meluncur dari mulut mereka (yang masih bau naga karena belum sempat sikat gigi), “Sekali-sekali bangun siang ah… Masa udah seminggu bangun pagi melulu… Hwehehe…”. Itu mah bukan sederhana atuh, tapi asal!

Bisa ditebak ‘kan, siapa yang menjawab asal seperti itu?

Yap! Salah satunya siapa lagi kalau bukan Putra, peranakan Jogja yang lahir dan besar di Jakarta, tapi ketika kuliah dia memilih kembali ke kota asal neneknya. Putra sudah menjadi penghuni kost D-7 semenjak awal kuliahnya.

Dia merasa nyaman tinggal di boarding house tersebut karena selain dekat dari kampusnya, “Anak-anaknya pemalas dan gokil! Jadi cocok banget sama gue,” begitu katanya kalau ada yang bertanya alasannya memilih tinggal di kost D-7.

Nama lengkapnya Brawijaya Putra Poncowiseso, nama yang masih kental berbau ‘jawa’. Pernah ada temannya yang nyeletuk, “Ngakunya anak Jakarta tapi nama jawa abis!”. Putra cuma menjawab dengan santainya, “Itu artinya bonyok gue masih mau melestarikan budaya jawa, walaupun sekarang tinggal di Jakarta!”

“Lo semua tahu nggak arti nama gue? Brawijaya itu diambil dari leluhur gue yang pernah jadi raja besar di Majapahit. Gini-gini gue masih keturunan ke-10 Raja Brawijaya! Hwehehehe…”. Tuh kan, makin asal aja tuh anak jawabnya.

Putra kuliah di jurusan Fisika angkatan ’07, dan nggak tanggung-tanggung, di Universitas Negeri terkenal di Jogjakarta.

Wuuiihh… Nggak kebayang ‘kan anak yang sedemikian ‘asal’ bisa kuliah di jurusan yang sedemikian ‘serius’!

Mengenai hal ini Putra cuma berkelit ringan, “Semua di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Ada Yin, ada Yang. Ada siang, ada malam. Ada pria, ada wanita.”

“Begitu juga gue, ada ‘asal’ ada ‘serius’!” Halahh… Ga jelas!

Putra tergolong mahasiswa yang biasa-biasa saja. Nggak terlalu pintar, walaupun sebenarnya cerdas.. Hwihihi…

Mungkin dikarenakan sifatnya yang asal sehingga nilai-nilainya sejauh ini nggak ada yang outstanding! Tapi satu hal yang pasti, Putra memegang teguh prinsipnya untuk nggak menyontek sewaktu ujian (terutama kalau pengawasnya pak Bambang, pegawai TU, yang mata liarnya melotot mengawasi mahasiswa yang sedang ujian sambil melintir-melintir kumis!).

Tapi kalau sekelas nyontek semua, Putra juga nggak akan mau kalah menyalin kertas jawaban ujian mahasiswa yang dianggap paling pintar, terutama saat dia tahu jawabannya belum tentu benar.

“Yang penting jawabannya sekelas sama semua. Kalau sudah begitu kan juga meringankan tugas Pak Dosen biar nggak usah memeriksa semua kertas jawaban ujian… Hwehehe…”, begitu katanya.

“Terus siapa tahu dosennya berbaik hati, berhubung jawabannya sama semua maka sekelas diberi nilai A semua! Hwehehehe…” . Maksa banget yah…

Sebenarnya Putra berwajah cukup tampan (Putra ingat pesan Ayahnya bahwa untuk hal yang satu itu dia harus merendah… Hwehehehe…). Tapi nggak tau kenapa sampai saat ini dia masih nyaman dengan statusnya yang ‘jomblo’.

Teman-temannya menjuluki dia ‘Pendekar Patah Hati’. Putra cuma cengar-cengir aja ketika diberi julukan seperti itu, karena dia merasa mungkin ada benarnya.

Nggak sedikit cewek yang berharap bisa mengisi hatinya, tapi Putra terkenal dengan sifat cueknya. Nah, ketika dia lagi kesengsem sama cewek, gantian deh putra yang gigit jari karena selalu ditolak dengan berbagai macam alasan.

Sempat ada satu alasan yang selalu terngiang di telinga Putra. “Putra, kamu terlalu muda untuk saya”. Ya iyalah, lha wong Putra nembak dosennya yang usianya terpaut 10 tahun lebih tua! Gila aja tuh anak…

Tapi emang dasar Putra! Udah jelas-jelas ditolak tetep aja keukeuh sumekeuh alias pantang menyerah mengejar Bu Dian yang sebenarnya adalah dosen jurusan Kimia.

Karena baginya, dunia belum berakhir hanya dengan penolakan dari dosen paling cantik se-fakultas tersebut. Justru Putra merasa bahwa penolakan demi penolakan itu yang akan mendewasakan dirinya. Dan lembar baru dalam kehidupannya yang penuh warna akan bermula dari hari Minggu yang cerah ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s