1. FIRST DATE

Oooaahhmmm…”

Putra menguap lebar-lebar. Matanya masih memberikan perlawanan hebat untuk dibuka. “Ini pasti gara-gara nggak bisa tidur semalem. Gue jadi ngantuk banget deh!” gerutu Putra dalam hati. “Tambah setengah jam lagi ah tidurnya…”

Putra, mahasiswa jurusan Fisika angkatan ’07, sudah menjadi penghuni kost D-7 sejak awal kedatangannya di kota gudeg ini. Pemuda (yang katanya menjadi harapan bangsa ini) memiliki perawakan yang tidak terlalu tinggi, sedikit kurus (maklum anak kost!) tapi berwajah yang awet muda alias imut (hwehehe…). Putra cukup dikenal dikalangan teman-teman kuliahnya maupun dilingkungan kostnya karena sifatnya yang pandai bergaul.

Selain itu, beliau yang menghabiskan masa kecilnya di Jakarta ini, juga dikenal karena kegemarannya berpenampilan santai dan terkesan apa adanya dengan memakai jeans, t-shirt dan sendal jepit.

Sambil tersenyum, Putra kembali memeluk gulingnya untuk meneruskan tidurnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu dan matanya terbuka seketika.

“Eh… Ini hari Minggu ya? Berarti hari ini gue ada janji ketemu sama Lisa!” Putra langsung bangkit dari tempat tidurnya dan menyambar handuk dari jemuran alumunium kecil yang diletakkan dipojok kamarnya serta langsung menghambur keluar kamar.

“Minggiirrr… Gue mau mandi duluan!! Gue ada janji nge-date jam 10 nih…” Putra berteriak sambil berlari ke arah kamar mandi. Dia tidak perduli teman-temannya yang sudah lebih dulu antri.

Begitulah kebiasaan di kost Putra. Penghuni kost D-7 ada sekitar 30 orang, tetapi kamar mandi yang tersedia hanya ada lima. Walhasil setiap pagi dan sore terlihat antrian di teras kamar mandi yang jumlahnya terbatas itu, persis seperti antrian minyak tanah bersubsidi saat operasi pasar di Kelurahan.

“Eh Put, lo nggak liat nih kita udah ngantri dari tadi!”

Putra melirik, ingin tahu siapa yang baru saja menegurnya. “Ehh… Mas Doni… Please Mas, saya udah telat banget. Ada janji ketemu sama cewek cakep nih Mas… Hwehehe…” Putra memasang tampang memelasnya. “Lima meniiit aja Mas,” sambung Putra sambil mengacungkan kedua tangannya dan membuka semua jarinya.

Doni mahasiswa S1 Ekstensi Akuntansi di Universitas yang sama dengan Putra. Sebelumnya Doni kuliah di D3 Akuntansi Politeknik Bandung dan ketika lulus langsung melanjutkan di Jogja. Kamarnya ada di sebelah kamar Putra dan kebetulan juga sama-sama berasal dari Jakarta, jadi mereka sudah seperti kakak beradik.

“Lima atau sepuluh menit Put? Kalo lima seperti ini!” sambil sedikit sewot Doni mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan kelima jarinya.

“Hwehehe… Sadar juga tho Mas…” Putra balas menyengir.

“Yaudah, cepetan sana!” akhirnya Doni tidak tega juga dan Putra langsung menghambur ke kamar mandi. Teman-teman lainnya yang mengantri di belakang Doni tidak berani berkomentar. Selain karena Doni di-tua-kan di D-7, postur tubuhnya yang besar dan padat berisi membuat mereka mengikhlaskan posisinya diserobot Putra dengan hati dongkol.

-**-

Jam di kamar Putra sudah menunjukan pukul 9.25 am. Masih cukup waktu untuk perjalanan menuju pusat kota Jogja.

Putra menatap bayangannya yang ada di cermin. “Udah OK!” katanya dalam hati. Kemudian Putra mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan mencium ketiaknya. Sekedar untuk memastikan. Setelah itu dia mengenakan jaketnya berwarna hijau lumut.

Dan, sruttt… sruttt… Putra menyemprotkan parfum di leher dan tempat-tempat strategis lainnya. “Finishing touch selesai! Sekarang siap berangkat.”

Sesaat matanya menatap meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya, tempat dimana dia meletakkan kunci motornya. “Lho kok nggak ada?! Waduhh… Jangan-jangan ada yang minjem Jendral gue nih…”

Jendral adalah sepeda motor kesayangannya. Ketika memutuskan untuk kuliah di Jogja, Putra memberanikan diri meminta dibelikan sepeda motor second kepada ibunya. Putra sadar, dia tidak ingin memberatkan ibunya yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga. Semenjak ayahnya meninggal dunia, ibunya yang menjadi harapan keluarga. Saat itu Putra masih duduk di bangku SMP kelas tiga dan semenjak itu pula Putra berusaha tumbuh sebagai anak yang mandiri.

Putra bergegas keluar kamarnya dan berteriak seenaknya. “Wooiii… Siapa yang minjem jendral gue semalem?! Balikin dong kuncinya! Gue buru-buru nih…”

Doni keluar dari kamarnya dengan handuk yang masih digosok-gosokan ke rambutnya yang semi botak. “Ada apa sih, Put? Pagi-pagi udah teriak-teriak kaya orang kebakaran sempak (celana dalam .red)!”

“Ada yang pinjam jendral nggak bilang-bilang, Mas! Mana aku buru-buru. Lagi ada janji sama cewek cakep nih…” sambar Putra sewot.

“Iya, gue tau lo lagi ada janji. Tadi kan lo udah bilang waktu nyerobot antrian mandi gue. Coba dicari lagi, mungkin ada dikantong celana atau jaket.”

Pikiran Putra menerawang sesaat. “Waduuhh… Dikantong celana yang semalem aku rendem kali yah, Mas…”

“Nah kan… Dasar pikun! Pantes aja kalo tuh uban makin banyak!” gerutu Doni.

Sementara Putra langsung berlari menuju tempat cuci pakaian. Sesampainya disana dia langsung mecari bak berisi pakaian kotornya yang dia rendam tadi malam. Setelah menemukannya diantara sekian banyak bak yang berisi rendaman pakaian kotor lainnya, Putra dengan semangat ’45-nya berusaha memeriksa kantong celana jeans yang terakhir dia pakai.

“Nah… Ketemu!” seru Putra bersemangat. “Mas Don, makasih yah… Love you, always…Putra kembali berteriak.

“Iya… Tapi nggak usah teriak-teriak begitu. Kasihan yang lain keberisikan dengar suara kamu yang kaya’ tarzan lagi manggil gerombolan gorilanya…” ujar Doni bijaksana tapi masih berbau asal.

Putra Cuma nyengir malu-malu dan langsung berpamitan. “Doain yah., Mas Don… Semoga kali ini berhasil!”

“Iya…” jawab Doni. “Asal jangan lupa martabak manis special campur telor buat upah berdoanya!”

“Mana ada martabak manis campur telor, Mas… Ada-ada aja!” sanggah Putra.

“Ada, Put! Lo minta aja sama abang penjualnya untuk dibikinin martabak manis campur telor… Jangan lupa minta dibuat terpisah… Hwehehe… Alias lo belinya dua!”

“Sial! Kirain ada beneran martabak manis campur telor… Beres deh, Mas! Asal doanya manjur, mau martabak manis campur keringet abangnya juga gue beliin…” balas Putra tidak mau kalah asal.

-**-

Saat ini Putra sedang melaju diatas sepeda motornya. Sesekali dia melirik jam tangannya. “Waduuhh… Kenapa pake ketemu macet segala sih! Gue kirain Jakarta doang yang macet. Bisa telat nih…” Putra terus menggerutu dalam hati.

Sebenarnya macet yang dimaksudkan Putra tidak separah Jakata. Hanya lalu lintas terasa sedikit lebih padat. Karena Jogja di hari libur memang padat oleh pada penghuninya yang ingin melepaskan penatnya setelah beraktivitas selama satu minggu penuh. Itulah salah satu alasan kenapa Putra lebih senang menghabiskan waktu di kost saja jika hari libur. Tapi berhubung Putra sudah terlanjur janji, maka dia memaksakan untuk berangkat juga.

Putra selalu berusaha memegang teguh prisipnya bahwa janji itu harus ditepati. Selain itu merupakan amanat yang selalu diajarkan ayahnya, Putra juga memiliki alasan yang kuat seperti, “Janji itu hutang! Dan hutang itu dibawa mati… Lha wong pahala aja masih nyicil, masa’ mau ditambah sama hutang… Hwehehe… Apalagi janji ketemu cewek cantik, masa’ lo milih hutang!”

Seperti juga kali ini, Putra lebih memilih bermacet-macet ria dari pada berhutang. Oleh karenanya dia masih berusaha keras untuk tidak menyia-nyiakan setiap ada kesempatan untuk mendahului kendaraan didepannya. Demi untuk bisa sampai di tempat yang sudah disepakati bersama si mahluk cantik.

Setelah sekian lama berjuang, akhirnya Putra sampai juga di pelataraan parkir Mal Malioboro. Tapi sekali lagi Putra harus menarik napasnya dalam-dalam. Karena mencari tempat parkir kosong untuk Jendral pada hari libur tidaklah mudah.

Untunglah, seorang tukang parkir yang baik hati mau membantu Putra mencarikan tempat parkir yang kosong dengan menggeser beberapa sepeda motor sehingga cukup untuk ditambah satu lagi. Setelah memastikan Jendral terkunci dengan aman, Putra bergegas masuk ke dalam mal.

“Nah itu dia kafenya, mudah-mudahan Lisa masih mau nunggu,” Putra kembali berbicara pada dirinya sendiri. Setengah berlari Putra menuju ke sebuah kafe yang terletak di salah satu sudut Mal.

Setibanya di kafe itu, Putra langsung mengenali wajah cantik yang duduk di meja kedua dari pintu masuk. Wajah yang terlihat mulai bosan!

“Oo… Oo… Perasaan gue nggak enak… Berarti waktunya akting lagi nih,” Putra berusaha menafsirkan arti ‘wajah yang terlihat mulai bosan’ itu dalam hatinya.

“Hai… Udah lama nunggu yah…” dengan nafas yang dibuat tersengal-sengal Putra berusaha berbasa-basi yang akhirnya jadi basi beneran.

“Belum!” Lisa melirik jam tangannya dan sambil tersenyum dia berkata, “baru empat puluh lima menit kok. Belum terlalu lama kan?”

“Maap, tadi aku harus nganterin eyang kost jalan-jalan pagi dulu. Katanya untuk menjaga kesehatannya, maklumlah kalo udah sepuh kan harus benar-benar menjaga kesehatan. Dan udara pagi bagus untuk paru-parunya yang sudah bekerja hampir seabad itu,” panjang lebar Putra berusaha mengarang cerita. Sebuah kebohongan lagi tercipta karena hubungan Putra dengan Eyang kostnya kurang begitu baik.

“Nggak perlu bohong kok…” Lisa kembali tersenyum.

Putra tertegun sejenak, “Gile juga nih cewek, bisa tahu kalo gue lagi bohong,” gumam Putra dalam hati. “Hwehehe… Iya maap, tadi gue kesiangan.”

“Nah, gitu dong… Emang kenapa bisa kesiangan? Habis dugem yah semalem?”

“Gue nggak suka dugem, Lis. Cuma nggak bisa tidur sore aja ”

“Ooo… Kenapa nggak suka dugem? Biasanya ‘kan cowok-cowok paling suka tuh kongkow-kongkow terus langsung dugem deh…” sepertinya Lisa mulai menemukan topik yang menarik dan ‘wajah yang terlihat mulai bosan’ pun perlahan mulai sirna dari wajah cantiknya.

I Am different from others! Gue nggak suka tempat-tempat yang palsu seperti itu. Begitu gemerlap di dalam dan menawarkan begitu banyak kebahagiaan. Tapi saat kita melangkahkan kaki untuk beranjak dari sana, masalah yang tadi kita tinggalkan di luar akan kembali menghinggapi!”

“Begitu yah… Yaudah mau pesen apa nih?”

“Mmm… Gue pesan roti bakar telur kornet aja deh, sama es jeruk.”

“OK! Tunggu sebentar yah, gue pesenin dulu.”

Lisa mengangkat tangannya dan tak berapa lama kemudian seorang pelayan kafe datang menghampiri mereka. Setelah memesan makanan dan minuman, mereka kembali melanjutkan obrolan yang tertunda. Dan dalam sekejap mereka telah terlibat dalam obrolan yang tidak kalah serunya dengan komentator sepakbola di televisi.

Putra telah mengawali first date-nya kali ini dengan baik!

3 responses to “1. FIRST DATE

  1. gua lupa. putra tuh yang mana ya cun?

  2. pantesannnnn!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s