2. FLASHBACK

Obrolan terus berlanjut. Bahkan sampai makanan dan minuman mereka habis tanpa terasa. Putra begitu menikmati acara nge-date-nya kali ini. Dan dia semakin dibuat terkagum-kagum pada wanita yang baru saja dikenalnya beberapa hari lalu itu.

Putra mengenal Lisa saat praktikum di Laboratorium Fisika Dasar. Saat itu Putra baru saja selesai praktikum, ketika ada cewek yang belum pernah dia lihat sebelumnya datang menghampiri.

Laboratorium Fisika memang menjadi tujuan mahasiswa dari berbagai fakultas lain yang mendapat mata kuliah Praktikum Fisika Dasar. Jadi wajar saja kalau banyak wajah asing yang berkeliaran disana.

“Hei… Lo pasti Putra, yah! Kenalin, gue Winda, Biologi angkatan ’07.” Ujar pemilik suara lembut disebelahnya sambil mengulurkan tangannya.

Putra cuma melongo. Dia masih bingung tentang bahan praktikumnya yang baru saja lewat. Jadi saat ini dia belum siap untuk bertemu dengan sosok manis yang ada di hadapannya. “Gile nih cewek, pink semua dari bando sampe sepatunya. Udeh kaya gulali aja! Untung dia pake blue jeans, bukan pink jeans”. Begitu komentarnya dalam hati.

“Hellooo…” Winda melambai-lambaikan tangannya tepat dihadapan mata Putra.

“Eh iya… Sorry… Iya gue Putra,” sesaat Putra terpaksa sadar dari lamunannya karena lambaian tangan Winda.

“Sebenernya sih yang mau kenalan sama lo itu temen gue. Tapi dia agak malu kalau disuruh nyamperin cowok. Jadi, mau nggak kalo lo yang ngajakin dia kenalan lebih dulu.”

“Mmmhhmm… Gimana yah… Sebenernya gue juga pemalu…”

”Alaahh… Ga usah sok pemalu gitu deh… Gue udah tau kok reputasi lo!”

Kalimat terakhir Winda membuat Putra semakin bengong. “Emangnya tau dari infotainment siang atau yang sore… Hwehehe…” Putra menjawab masih tetap dengan gaya asalnya.

“Yee… Nih orang…” Gerutu Winda.

Putra menangkap gelagat tidak mengenakan ini. “Yaudah… Ayo kita samperin temen lo,” dengan segera dia menarik tangan Winda. “Yang mana temen lo, Win?”

Winda berjalan menuju ruang praktikum optik, tempat dia dan temannya tadi melakukan praktikum, dan Putra mengikuti dari belakang.

Sesampainya di ruang pre-test, Winda sedikit berbisik kepada Putra. “Itu temen gue, yang duduk dibaris kedua dari depan. Kayaknya sih masih nyalin penjelasan dari assisten praktikum tentang praktikum tadi.”

Putra mengangguk, “Rajin juga yah, udah selesai praktikum tapi masih mau nyalin tulisan di papan tulis. Gue aja kalo udah selesai praktikum pengennya buru-buru pulang, biar bisa tidur di kost… Hwehehe…”

“Ya bedalah… Lisa itu kan siswa teladan semasa SMA-nya!” Sergah Winda.

“Waktu gue SMA, gue juga siswa teladan lho… Tapi buat adik gue dirumah… Hwehehe… Setidaknya itu yang sering dibicarakan nyokap gue kalo lagi ngasih ceramah adik gue,” jawab Putra.

“Masa sih? Emangnya nyokap lo ngga tau kelakuan lo di luar rumah?” Winda tidak percaya.

Putra melirik Winda. Sesaat sepertinya dia hendak marah. Tapi kemudian senyuman kembali tersungging di wajahnya. “Emangnya menurut lo kelakuan gue gimana?”

Winda sadar telah salah bicara, sehingga cepat-cepat meralatnya. “Maap, becanda… Hwehehe… Yaudah sana, keburu sore nih!”

Begitulah awal perkenalan Putra dengan Lisa. Sampai akhirnya mereka sepakat untuk bertemu pada hari Minggu pagi ini.

Sebuah kencan yang indah buat Putra, karena sejauh ini dia belum membuat masalah, setidaknya kalau bohongnya mengenai eyang kost-nya bukan merupakan hitungan mengacau.

Biasanya ditengah-tengah acara nge-date-nya, Putra sudah berulah. Faktor bosan yang sering menjadi kambing hitamnya. Ada yang pakai cara ngumpet-ngumpet kirim sms ke Mas Doni untuk telpon dia dengan berpura-pura dicari eyang kost-nya untuk ngerokin ( gile aje si Putra! Ntar kalo eyangnya sampe ganti kulit gara-gara dikerokin gimana coba… ), sampai pura-pura ngejar tukang cendol yang kemaren gelasnya dia bawa karena kelupaan mengembalikan. Tapi untuk kali ini, Putra benar-benar dibuat terkagum-kagum oleh kepribadian Lisa yang sederhana tetapi tetap memegang teguh prinsip-prinsip hidupnya.

Selama perjalanan pulang ke kost Lisa pun mereka masih terlibat dalam pembicaraan yang seru di atas jendral, yang menyebabkan jarak jauh pun terasa amat singkat bagi Putra.

Waktu satu hari bersama Lisa ternyata masih dirasa kurang bagi Putra. Sehingga sebuah janji pun dibuat untuk bertemu kembali keesokan harinya selesai kuliah jam 1 siang. Karena walaupun fakultas mereka berbeda tetapi letak fakultas mereka bersebelahan. Putra semakin melayang dalam angan cintanya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s