3. ANOTHER BAD DAY

Siang itu Putra masih ada kuliah Mekanika A di ruang T1.02. Tapi sepertinya putra sudah sangat gelisah, pantatnya tidak bisa duduk dengan tenang. Kadang posisinya geser kekanan, kadang geser ke kiri, kemudian diangkat lalu diturunkan lagi.

Putra jadi ingat keisengannya terhadap guru SMP-nya yang ia beri balsem tempat duduknya. Tingah lakunya sama persis seperti yang dia lakukan saat ini. Putra benar-benar tak sabar lagi untuk segera bertemu cewek yang telah mengisi sudut hatinya yang sudah lama berdebu.

Berkali-kali Putra melirik jam tangan yang ada ditangannya… Fianti, teman seangkatannya di Fisika. Hwehehe… Berhubung ngga punya jam tangan sendiri, jadi Putra harus bersedia repot-repot untuk mengganggu Fianti yang masih konsentrasi mengikuti kuliah. Sampe teman wanitanya itu, yang merupakan mahluk langka di Fisika ’07 karena dalam satu angkatan cuma ada 3 orang, merasa terganggu.

“Kamu itu kenapa sih, Put?” tanya Fianti berusaha untuk sabar melihat kelakuan Putra yang semakin agresif. (Hwehehe…)

“Ngga papa kok, aku cuma mau ngecek aja, jam kamu merknya apa, trus pengen tahu juga siapa pembuatnya, sekalian ngecek bautnya masih lengkap apa ngga. Hwehehe…”, jawab Putra sambil nyengir. Karena Fianti merupakan penduduk asli Jogja yang tidak biasa ber-‘gue-elu’, Putra pun terpaksa ber-‘aku-kamu’.

Saat sedang melaksanakan hobby nyengir-nya, tiba-tiba sebatang kapur mungil datang menghampiri dengan kecepatan yang mengagetkan. Hampir saja masuk ke dalam mulutnya yang sedang ber-nyengir ria andaikan Putra tidak menerapkan ilmu kungfunya untuk menghindar.

Putra masih kaget. Dia berusaha mencari dari mana mahluk putih terbang tadi berasal sambil mengelus dadanya untuk menenangkan jantungnya yang terasa seperti ingin berlari dari tempatnya semula. Dan matanya bertumpu pada dosennya yang sedang bertolak pinggang.

“Saya perhatikan sedari tadi kamu tidak memperhatikan kuliah yang saya berikan, hanya mengganggu teman sebelah kamu, mau saya keluarkan?” tanya Pak Maruto sekaligus menebarkan ancaman terhadap Putra.

“Maaf, Pak”, jawab Putra singkat.

“Sekali lagi saya lihat kamu mengganggu kuliah saya, silahkan kamu meninggalkan ruangan ini!” lanjut Pak Dosen masih dengan nada penuh ancaman yang horor.

“Baik, Pak”, kembali Putra menjawab singkat. Dia tidak mau berdebat dosennya yang terkenal pelit nilai itu. Daripada akhirnya nanti nilainya disunat, Putra lebih memilih untuk diam.

Keadaan kuliah semakin membosankan bagi Putra, disamping keinginan untuk bertemu Lisa semakin menggebu, Putra juga harus berpura-pura memperhatikan perkuliahan yang sedang berlangsung untuk menghindari kemarahan Pak Maruto.

Akhirnya waktu yang ditunggu Putra tiba juga ketika Pak Maruto mengucapkan kalimat pamungkasnya, “Baiklah, sepertinya cukup untuk hari ini, kita lanjutkan minggu depan”.

Tanpa banyak bicara, Putra langsung menyambar tasnya dan langsung keluar dari ruangan kuliah. “Waduh, udah jam 1 kurang nih. Harus cepat sampai ke selasar Biologi. Jangan sampai Lisa nungguin duluan”, ujar Putra dalam hati.

Setengah berlari Putra menuju selasar fakultas sebelah. Sesampainya disana, Putra berusaha mengatur nafasnya biar tidak kelihatan ngos-ngosan.

Setelah sedikit tenang, Putra melihat sekelilingnya. Memperhatikan siapa saja yang ada di selasar itu, mencari wajah-wajah yang dia mungkin kenal. Dia berharap paling tidak bisa bertemu Winda atau siapa saja yang kira-kira bisa menunjukan dimana Lisa berada.

Saat sedang asyik memperhatikan sekelilingnya, pandangan Putra malah tertuju pada wajah cantik yang ada di parkiran Fakultas Biologi. “Lho, itu bukannya Lisa?” gumam Putra dalam hati.

Putra sumringah. “Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Dicariin dari tadi, eh… nongol sendiri,” batin Putra sambil tanpa sadar senyum-senyum sendiri.

Putra sudah berniat mengangkat tangannya, dan ingin memanggil nama cewek yang sedari tadi dicarinya itu. Tapi niatnya terhenti, karena sejurus kemudian dia sadar bahwa Lisa tidak sedang sendiri.

Mahluk cantik itu terlihat sedang berbincang dengan seorang pria yang yang sama kurusnya tapi sedikit lebih tinggi dari Putra (Putra suka marah kalau dibilang lebih pendek… hwehehe…), dengan gaya rambut yang semi gondrong.

Jiwa muda Putra mulai bergejolak. Tapi dia masih berusaha untuk sabar. “Ah, mungkin cuma temen kuliahnya,” Putra berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Tapi tidak berapa lama kemudian, Lisa terlihat memasuki sebuah mobil sedan bersama sang pria tadi dan pergi meninggalkan Putra yang masih setia nungguin gedung Fakultas Biologi dengan segala angan bahagianya.

Shit! Ketemu lagi sama rasa ini,” gerutu Putra sambil berjalan kembali menuju arah parkiran fakultasnya. Putra sendiri tidak bisa mendeskripsikan apa yang sedang dia rasa. Tapi yang jelas dia amat benci dengan rasa itu.

“Ternyata semuanya ngga berarti buat dia. Atau jangan-jangan gue yang terlalu banyak berharap ya…” Putra berjalan dengan kepala tertunduk, berusaha mengevaluasi peristiwa yang baru saja dia alami.

“Alone again… Naturally…” bisiknya lirih. Sesaat kemudian…

“Put!” Sebuah suara yang sudah akrab mampir ditelinganya saat Putra sudah sampai disamping Jendral.

Putra menoleh, “Ada apa, Ndor?”

Ndoro adalah nama sahabatnya. Nama aslinya Hendra. Semenjak keluarganya yang asli Cirebon bermigrasi ke Jogja, Hendra yang awalnya bertubuh ramping ala anak kost kini menjadi menjadi tambun dan subur (hwehehe…), seperti tuan tanah yang tinggal terima upeti dari rakyatnya (hwehehe lagi…), sehingga teman-teman dekatnya memberi dia julukan “Ndoro”. Terus kalo bokapnya ya “Ndoro Kakung”, kalo nyokapnya “Ndoro Putri”, terus kalo… halahh… kebablasan! Kembali ke parkiran Fakultas MIPA.

Ndoro menghampiri dengan nafas terengah-engah. “Lu dari mana aja sih. Dicariin dari tadi juga!”

“Habis dari Biologi. Kenapa? Sampe ngos-ngosan begitu ngejar gue. Susah yah ngejar artis… hwehehe…” masih dengan gaya santainya, Putra berusaha menutupi perasaannya yang sedang tidak menentu itu.

“Ngapain lu ke Biologi?” tanya Ndoro sedikit penasaran.

“Nyari cacing buat lauk makan siang… hwehehe… ‘kan anak Biologi sering tuh bedah-bedah yang begituan,” Putra kumat lagi asalnya!

“Kenapa ngga kodok aja? Yang gedean dikit. Setahu gue, anak Biologi juga sering bedah kodok,” Ndoro ga mau kalah asal.

“Ngga ahh… Kegedean… Ntar takut ngga habis. Emangnya lu mau ngabisin kalo gue ngga habis?” jawab Putra sembari nyengir santai.

“Udah ah. Bercanda mulu. Lu tadi dicariin sama Pak Maruto. Katanya lu disuruh menghadap ke kantornya dia siang ini,”

“Ada apa lagi, Ndor?”

“Ngga tahu juga deh. Mungkin masih tentang insiden kapur melayang tadi kali yah.”

“Yaelah! Masih diperpanjang aja sih. Dasar Maruto Klopo! (Sebuah perintah dalam bahasa Jawa yang artinya memarut kelapa. red)

“Alamat ngulang deh lu tahun depan, Put.”

“Yee… Jangan didoain dong. Yaudah, lu udah ngga ada kuliah lagi ‘kan?”

Ndoro Cuma menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat begitu mengelikan saat itu karena bibirnya ikut bergoyang seiring goyangan kepalanya. Putra tersenyum geli melihatnya.

“Kenapa emangnya?” tanya ndoro.

“Temenin gue yuk,” potong Putra seraya menarik tangan sahabatnya itu. “Busyet dah, berasa narik bleduk (anak gajah.red)!” lanjut Putra.

“Rese’ lu,” protes Ndoro. “Gue ngga mau ah ke ruangannya Pak Maruto, itu kan ada di lantai tiga. Gue males naek tangganya.”

“Yee… Justru yang naik ke lantai tiga itu yang bisa bakar lemak… hwehehe…” balas Putra dan kembali menarik tangan sahabatnya itu itu mengikuti langkahnya.

Setelah perjuangan berat menuju lantai tiga gedung Jurusan Fisika karena harus mendorong Ndoro yang mogok di tengah tangga lantai 2 dengan nafas yang sudah senen-kemis, mereka sampai juga di depan ruangan Pak Maruto.

“Doain gue ya, Ndor,” pinta Putra sebelum mengetuk pintu.

“Halahh… Kaya mau tempur aja gaya lu. Udah buruan sana, gue pengen pulang nih, laper!”

“Asyik, berarti gue bisa numpang makan siang dong di warung Nyokap lu,” ujar Putra penuh harap.

“Makanya buruan! Inget jangan ngelawan, mata kuliah lu taruhannya!” Ndoro memperingatkan.

“Siap, boss!” jawab Putra sambil mengetuk pintu dan langsung masuk.

Setelah tiga puluh menit menunggu didepan pintu, akhirnya pintu ruangan terbuka dan Putra keluar dari dalam seraya mengucapkan terima kasih.

Wajah Putra terlihat terbeban. Ndoro merasa ada kejadian kurang mengenakan selama Putra berada didalam ruangan tadi. Tapi dia tidak berani bertanya untuk saat ini. Putra pun hanya menurut saja ketika sahabatnya itu mengajaknya bergegas menuju rumahnya karena jam makan siang sudah terlewat jauh.

Satu hari yang kurang menyenangkan lagi berlalu bagi Putra. Tetapi jagoan kita ini tentunya tidak akan semudah itu menyerah. Karena beberapa kesialannya hari ini terasa sedikit terbayar dengan bisa makan gratis di warung milik keluarga sahabatnya itu. Hwehehe… maklum, namanya juga anak kost. Makan gratis bisa berarti segalanya.

_**_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s