Hidup Menunggang Takdir!

Sungguh tidak terasa, perjalananku dalam menunggang takdir kehidupan ini, sejak 30 November 1979 sudah mencapai 29 tahun, artinya perjalanan wisata hidup ini sudah mendekati terminalnya. Minimal sudah hampir mencapai setengahnya, malaikat Rokib dan ‘Atib yang tidak bosan mencatat setiap kisah dalam perjalanan ini, sudah siap tutup buku dan melaporkannya kepada The Owner kehidupan ini. Malaikat Izroil yang selama ini menjadi badan pengawas umur sudah siap menekan tombol stop kontak ajalku.

Bumi yang selama ini diinjak, sudah siap menelan jasadku. Akankah aku sanggup mengukir kisah sisa perjalanan ini dengan tinta emas, yang akan dijual kepada Allah SWT?

Kadang aku menangis, saat aku lihat diri ini di depan cermin, yang kadang begitu angkuh, begitu egois, begitu banyak topeng yang dipakai untuk menutupi dosa-dosa selama ini, padahal sesungguhnya Engkaulah yang menciptakan raga ini, dan Engkau pula yang akan mengambil kembali.

Ya Tuhanku, tatkala aku bercermin, tampak sesosok yang sering kulihat, sangat sering kupandang, namun aneh… sepertinya aku belum mengenalnya dan terasa begitu asing, siapakah diriku, darimana aku dan hendak kemana kuberjalan?

Tatkala kupandang wajah ini, hatiku bertanya… apakah wajah ini yang kelak akan bercahaya bersinar indah di surga ataukah wajah ini akan hangus… legam dalam neraka jahanam?

Tatkala kutatap mata ini, hatiku bertanya, mata inikah yang akan menatap roh-roh, menatap wajah Allah, menatap sosok Rasulullah dan menatap kekasih-kekasih Allah? Atau justru mata ini yang akan terbelalak… melotot… dan terurai di neraka jahanam? Akankah mata penikmat maksiat ini akan menyelamatkanku, wahai mata, apa gerangan yang kau tatap selama ini?

Tatkala kutatap mulut, apakah mulut ini yang kelak akan berdesah penuh kerinduan mengucap “Laa ilaha illallah” saat malaikat maut datang menjemput? Ataukah mulut yang menganga dengan lidah terjulur keluar, dengan lengking pekik jeritan pilu yang akan mencopot sendi-sendi setiap pendengaran? Ataukah mulut ini menjadi pemakan buah zakum jahanam, yang getir penghangus… penghancur setiap kelu?

Apakah gerangan yang engkau ucapkan, wahai mulut yang malang? Berapa banyak dusta yang engkau ucapkan? Berapa banyak hati yang remuk dengan pisau kata-katamu yang mengiris tajam? Berapa banyak kata-kata manis madu yang palsu yang engkau ucapkan untuk menipu? Betapa jarangnya engkau berkata jujur. Betapa langkanya engkau menyebut  nama Tuhan dengan tulus, betapa jarangnya engkau syahdu memohon agar Tuhanmu mengampunimu.

Tatkala kutatap tubuhku… apakah tubuh ini yang kelak akan penuh cahaya, bersinar bersuka cita bercengkerama di surga sana? Atau tubuh yang akan tercabik-cabik hancur, mendidih didalam lahar membara jahanam, terpanggang tanpa ampun… derita yang tak akan pernah berakhir.

Wahai tubuhku… berapa banyak maksiat yang engkau lakukan, berapa banyak orang-orang yang engkau zalimi, berapa banyak hamba-hamba Allah yang lemah yang tertindas dengan kekuatanmu? Berapa banyak yang merindukan pertolongan yang engkau acuhkan tanpa kau peduli padahal kau mampu, berapa banyak hak-hak yang kau rampas?

Ketika kutatap tubuhku… hai tubuh seperti apakah gerangan ini hatimu? Apakah isi hatimu sebagus kata-katamu atau seburuk daki-daki yang melekat di tubuhmu? Apakah hatimu segagah ototmu? Ataukahselemah daun-daun yang mudah gugur? Apakah hatimu seindah penampilanmu atau sebusuk kotoranmu? Betapa beda dengan apa yang tampak dicermin dengan apa yang tersembunyi… betapa beda… beda sekali apa yang tampak di cermin dan apa yang tersembunyi.

Oh… betapa… aku telah tertipu… aku tertipu oleh topeng. Betapa yang kuhias selama ini hanyalah topeng. Betapa pujian yang berhamburan… hanyalah memuji topeng. Betapa yang indah ternyata hanyalah topeng, sedangkan aku… hanyalah seonggok sampah busuk yang terbungkus. Aku tertipu. Aku malu ya Allah, aku tertipu. Ya Allah, selamatkan hamba-Mu ini…

 

Sumber: Indahnya Berbisnis Dengan Tuhan. Muzayini, Ayi. Fatihah Publishing. Agustus 2008,

7 responses to “Hidup Menunggang Takdir!

  1. Salam Maya!

    Serem ketika kita fokus memandang wajah di cermin.
    Terlebih bila buih sampo memenuhi seluruh wajah,
    Maka tampak biji mata yg tak kita kenal di dlm kita.
    Siapa dia?

    Menurutku:
    Tubuh itu takdir!
    Dari bumi,
    Dia ringkih,
    Karenanya dia bawel, penuntut.
    Keberadaannya sementara!

    Roh itu takdir!
    Dari langit,
    Dia kuat,
    Karenanya dia penurut,
    Keberadaanya abadi.

    Jiwa bukan takdir,
    Jiwa bebas berkehendak.
    Jiwa adalah kesempurnaan,
    Yang mesti kita raih dan miliki,
    Dari dunia ini!

    Salam Pikir Tiga!

  2. takdir membawa aku koment di sini
    ..
    salam kenal

  3. aku yakin..
    karena baru
    maka aku di moderasi
    ..
    mampir ke rumahku ya…

  4. Salam Maya Sobat ucasucus!
    Salam Maya juga buat Ilyas berdasi,
    Yang keyakinannya 2x gagal hari ini;
    Di moderasi!

    Salam Pikir Tiga!

  5. Akur, Sir!

    Tubuh adalah takdir,
    Roh adalah takdir,
    Jiwa adalah kebebasan;
    Berjalan pada koridor takdir-taksir itu!

    Salam Damai!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s