5. NEW HOPE!

 

            Kuliah Fisika Komputasi baru saja berakhir. Putra terlihat sedang sibuk merayu cewek fisika yang cuma tiga gelintir itu untuk mau menyalinkan catatan kuliah mereka ke bukunya. Ada juga kita merayu orang untuk minjem catatan, ini malah minta disalinin sekalian! Ancuurrr…

Tiba-tiba terdengar suara lantang dari pintu kelas. “Put, lo mau ikutan brunch bareng-bareng ngga?”

Ternyata yang berteriak, Lutfi, temen seangkatan Putra yang juga anak Jakarta. Umurnya lebih muda dari Putra, tapi pemikirannya lebih dewasa, Saking dewasanya yang dipikir ngga jauh-jauh dari tontonan orang dewasa, tapi bukan bokep, melainkan acara masak-memasak setiap sabtu pagi di televisi. (Hayo… jangan dibiasain ngeres tuh otak…)

Uniknya, rambut nih anak keriting dari sononya. Jadi ngga bakalan bisa dilurusin walaupun di-rebounding… hwehehe…

Lutfi punya otak yang lumayan tokcer, (mungkin itu juga yang jadi sebab rambutnya keriting ngga keruan) makanya kalo ujian anak-anak fisika pada rebutan duduk disebelahnya. Walaupun setiap ujian, para pengawas yang menentukan tempat duduk peserta ujian, tapi tetap saja anak-anak bengal ini suka pindah-pindah semaunya. Karena bagi mereka posisi menentukan prestasi.

Brunch apaan, Fi?” Putra ikutan teriak. Padahal jarak antara mereka hanya beberapa kursi (1 kursi lebarnya kira-kira 75 cm.red), tapi kalo jahilnya lagi pada kumat, ya memang seperti itu.

“Hwehehe… Breakfast and lunch. Alias sarapan sekalian makan siang, karena masih jam 11 kurang, mau lunch nanggung tapi mau breakfast udah lewat. Tadi pagi blom sarapan ‘kan lu?”

“Belom sih. Emang pada mau brunch dimana, Fi?” kali ini Putra sudah menurunkan intensitas suaranya beberapa desibel karena sadar ketiga teman cewek di dekatnya sudah menutup telinga mereka.

“Anak-anak sih ngajakinnya dikantin Biologi”.

“Yaelah, kenapa harus di Biologi sih,” Putra sedikit protes. “Emang ngga ada yang inget tragedi ‘bakso Eryk’ apa?”

Eryk, pemuda Sumedang asli, yang namanya disebut-sebut cuma tersenyum pahit. “Put, udah atuh, jangan diulang-ulang terus. Malu ah”.

“Tragedi yang mana, Put? Kok Dewi belum denger,” salah satu maskot Fisika’07 ikutan bicara. Cewek kecil, manis, imut keturunan sunda ini sering cemberut kalo udah diledekin Putra ‘dek, mamanya mana? SD Negeri ada di sebelah tuh, bukan disini’.

Putra memandang Eryk sesaat, “gimana, Ryk? Gue atau lu yang cerita?”

 “Udah biar gue aja yang cerita. Daripada dibuat malu lebih baik mempermalukan diri sendiri ‘kan? Hwehehe…” Eryk mengambil keputusan.

“Jadi ceritanya waktu itu Eryk lagi makan di Biologi, Wi. Sama Putra dan Lutfi juga. Trus Eryk milih lauk bakso kuah rendang, karena Eryk pikir itu bakso yang sama dengan yang ada di simple café”.

Simple café apaan lagi tuh?” Dewi memotong cerita Eryk.

“Kalo itu sih tanya Putra. Soalnya dia yang kasih nama,” jawab Eryk.

“Yah, Dewi. Kemana aja, Bu. Itu lho, warung makan yang namanya Warung Sederhana, adanya di seberang Selokan Mataram, biar keren di era globalisasi ini harus pake nama inggris. Siapa tahu bisa go public,” Putra menjawab singkat.

“Dasar gelo’,” Dewi tersenyum geli. “Terus, Ryk?”

“Terus pas bayar, Eryk kaget. Kok cuma pake bakso doang mahal banget,” Eryk meneruskan ceritanya.

“Terus dikasih tahu sama penjaga kantinnya kalo ternyata itu bakso daging giling, bukan bakso biasa,” Lutfi menambahkan.

Hwahahahahaha… Semua yang sedang mendengarkan cerita Eryk tertawa seketika. Menertawakan kesialan Eryk.

“Pantesan kok baksonya gede banget. Untung pas lagi bawa uang lebih,” Eryk melanjutkan, tampak jelas dia masih dongkol dengan tragedi itu. Niat hati mau irit malah bolong.

“Yaudah… Pada mau makan dimana nih jadinya…” Putra bertanya kepada teman-temannya ketika tawa mereka mulai mereda.

“Di Biologi aja deh, Put. Kalo simple café kejauhan. Ntar yang ada lu malah langsung pulang, ngga ikut kuliah Gelombang,” Ujar Lutfi yang sudah tahu banget kebiasaan temannya itu.

Putra cuma nyengir garing, padahal dia malas menginjakkan kakinya lagi di fakultas Biologi. Rupanya akibat insiden di parkiran Biologi tempo hari masih berbekas di hatinya. Tapi kali ini dia kalah suara karena semua teman-temannya setuju untuk brunch di kantin Biologi.

*_*

 

Selama perjalanan ke kantin, Putra mengikuti teman-temannya dari belakang. Dia mengendap-endap, celingak-celinguk, memperhatikan sekelilingnya, persis seperti detektif partikelir yag ada di film-film komedi kacangan.

Kalau sudah seperti ini, ketahuan deh siapa yang menjadi korban kamuflasenya. Tentu saja Ndoro, sobatnya yang paling gembul (hwihihi…), karena Putra merasa Ndoro tidak akan keberatan jika tubuhnya terlihat sedikit lebih gembul lagi dengan ketambahan tubuh Putra yang sedari tadi menempel dari belakang.

Ndoro sih memang tidak keberatan, karena dia merasa seperti membawa tas monyet-monyetan… Hwahahahaha… Tapi emang dasar Putra cueknya ngga ketulungan, bahkan ketika makan pun Putra minta dipangku, biar dikira jadi perutnya Ndoro.

Pada awal acara makan sih lancar-lancar saja, sampai sebuah suara yang Putra kenal membuatnya tersedak. “Put, lo kemana aja? Lisa nyariin tuh. Katanya dia coba telp hp lo, tapi ngga pernah nyambung. Di sms failed terus”.

Putra mengangkat wajahnya dan terpana melihat pemandangan dihadapannya. ”Busyet dah… Kemaren pertama ketemu pink semua… Sekarang kenapa bisa jadi orange semua dari bando sampe sepatu…” batin Putra dalam hati yang membuatnya semakin tersedak. Ternyata Winda yang ada dihadapannya, teman baik Lisa.

“Uhukk… Uhukk…” Putra merasa ada masih ada nasi yang nyangkut di hidungnya. “Ehh… Winda… Apa kabar? Lama juga yah kita ngga ketemu”.

“Udah ngga usah pake basa-basi. Temen gue lu apain sampe klimpungan begitu nyariin lu?”

“Lisa nyarin gue?” Putra masih ngga percaya dengan pendengarannya, sampe harus ngucek-ngucek matanya. (Lho, indera pendengaran itu mata atau telinga sih?)

“Iya. Katanya hp lu ngga bisa dihubungi”.

“Maap, nomer gue ganti. Soalnya yang lama angus…”

“Yaudah, ntar gue bilangin Lisa, tapi nomer lu yang baru berapa?”

Putra menyebutkan nomer hp-nya yang baru dan Winda langsung mencatat di phonebook-nya.

“Eh iya, Put. Lu dah tau belom kalo tanggal 18 besok dia ultah?” lanjut Winda.

“Dia siapa?” Putra balik bertanya.

“Oon!” Ndoro menoyor kepala Putra.

“Ya Lisa lah. Masa emaknya Winda!” lanjut Ndoro sambil berbisik.

“Hwehehe… Bener juga lu, Mbrot. Emang gue lagi ngecengin emaknya ya… hwehehe… Anaknya aja begini apalagi emaknya ya… hwihihihi…” lanjut Putra juga sambil berbisik.

“Berarti minggu depan dong, Win?” kali ini Putra mengajukan pertanyaan yang tepat meskipun tidak penting… hwehehehe… hanya untuk berbasa-basi.

“Iya. Lu dateng yah ke kostnya, ada syukuran kecil-kecilan”.

“Ok. Siip!”

Setelah itu Winda pergi berlalu meninggalkan Putra yang masih tidak percaya bahwa lubang harapan itu kembali menganga lebar di atas kepalanya.

Tapi sebelum Putra semakin jauh melayang bebas ke dalam lubang harapan yang dia buat sendiri, sebuah tepukan hangat menyentuh pundaknya. “Put, nasi lu dilalerin!”

Ternyata tepukan Ndoro menyadarkan Putra dari angan sesaatnya.

Itulah arti persahabatan sejati bagi mereka, bukan hanya saling mengingatkan dalam kesulitan, tetapi juga dalam kebahagiaan agar tidak terlalu berlebihan menikmatinya. Ndoro tidak ingin sahabatnya itu melayang terlalu tinggi karena ditakutkan jatuhnya pun akan semakin sakit.

Putra melanjutkan kembali brunch-nya sampai tiba saatnya untuk masuk mata kuliah selanjutnya.

­*_*

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s